Tidak Semua Wirausahawan itu Pengusaha

Dari judul yang kita baca di atas, apakah dari kita ada yang tidak sepakat? Sekarang mari kita coba cermati beberapa cerita berikut.
Kita ambil contoh Warung Makan ‘Yu Fo’ di Sumedang Jawa Barat dari cerita yang saya peroleh warung tersebut sudah berdiri 30 tahun lebih, juga Warung Makan ‘Asli’ yang merupakan warung makan yang melegenda di Kutoarjo Jawa Tengah. Kedua warung makan tersebut sudah lama berdiri dan mempunyai pelanggan yang loyal, dan terus bertambah pelanggannya dari hari ke hari hingga sekarang. Hanya saja kita tidak melihat pemilik kedua warung makan tersebut tertantang untuk membuka cabang di tempat lain, juga sebenarnya bisa saja pemilik usaha warung makan tersebut me-waralabakan usahanya agar tantangan faktor kali usahanya bisa terjawab sekedar untuk menguatkan kesan bahwa biar pun mereka generasi tua dalam wirausaha tapi mereka punya bakat pengusaha. Karena saya yakin kedua warung makan tersebut bisa minimal seperti ‘Ayam Bakar Mas Mono’ di Jakarta atau ‘Warung Sea Food Haji Moel’ di Cirebon, usaha yang sama-sama dimulai dari warung tenda di pinggir jalan namun sekarang keduanya sudah membuka cabang di beberapa lokasi hanya dalam hitungan tahun saja.

Dari sedikit uraian di atas, paling tidak kita bisa menyimpulkan beberapa hal, salah satunya bahwa ternyata mental entrepreneur itu tidak selalu dipunyai oleh semua wirausahawan. Seperti yang kita lihat, banyak memang orang yang berusaha berdikari dengan wirausaha dari nol kemudian memperoleh kesuksesan besar, tapi ternyata lebih banyak lagi orang yang berwirausaha untuk kemudian usahanya mentok dan jalan ditempat walaupun telah lama berdiri, juga dikenal masyarakat luas dan bahkan mempunyai pelanggan loyal, karena ternyata itu bukan jaminan.

Disini diperlukan kecerdasan entreprenur (Entre-Q) untuk menyiapkan mental entrepreneur kita ketika mulai menerjuni dunia wirausaha, sehingga dalam perjalanan berwirausaha kita tidak akan kehabisan bahan bakar agar visi dan obsesi kita tetap menyala-nyala. Sehingga jatuh bangun kita sepanjang perjalanan wirausaha dengan ringan saja kita lalui karena mimpi besar itu telah menyeka luka-luka kita. Pasti akan ada onak dan duri, tapi harus kita yakini itu adalah konsekuensi, jangan sampai hal tersebut menjadi halangan yang karenanya kemudian kita surut mundur dan terjebak dalam tujuan-tujuan jangka pendek kita yang cenderung pragmatis. Suatu kondisi yang Robert T Kiyosaki menyebutnya dengan ‘Rat Race’, semakin kencang kita berlari itu hanyalah sebuah tuntutan jawaban dari semakin derasnya kebocoran keuangan karena kebutuhan konsumtif kita.

Bekasi, 5 Februari 2010

Written by arifunasiin

1 Comment

yuyun depe

tapi kalo kekencengen malah membunuh usahanya sendiri. Gitu ga mas? Yang menjadi korban adalah terwaralabanya. Kalau saya lebih suka makan di tempat yang spesial, yang cuma 1 tempat. taste-nya > sensual. [untuk makanan seh – tidak berlaku untuk fastfood].

Comments are closed.