Sebuah Pelajaran dalam Berwirausaha

Kita masih ingat dengan kisah Titanic, sebuah kisah dikenal masyarakat luas, bahkan sudah difilmkan. Kapal penumpang raksasa ini dianggap tidak bisa dihancurkan, didalamnya dimasukan semua teknologi terbaru dalam rekayasa kelautan, dan dibuat khusus untuk standar mewah. Segala sesuatunya adalah standar kelas atas: konstruksi, mesin, makanan, musik, perabot, dekorasi, tempat tidur, pelayanan dan kru. Namun demikian, pada pelayaran perdananya itu menghantam sebuah gunung es di Atlantik Utara dan tenggelam dengan kerugian besar dalam sejarah kehidupan manusia.

Pelajaran dari peristiwa tragis ini adalah, kita sering terperangkap pada fokus interior dan aksesoris internal yang harus mewah daripada pemetaan strategis ke arah pertahanan terhadap faktor eksternal. Dengan kata lain, perhatian para kru terfokus pada mengatur kursi geladak, para pelayan pada makanan dan cara melayani, para musisi di tuning biola mereka, pada saat yang sama seharusnya perhatian yang lebih juga terhadap apa yang terjadi dari luar kapal ditengah di laut berikut respon cepatnya apabila saat menerima sinyal bahaya dari sekitarnya.

Sekarang permasalahannya adalah, apakah kasus ini tempat studi bisnis yang tepat? Karena jika mereka lebih banyak memperhatikan dan memfokuskan pada ancaman terhadap kapal agar perjalanan yang aman dan memperbanyak sekoci kecil sebagai perahu penyelamat agar cukup untuk semua penumpang, yang nampak pastilah interior dan eksterior kapal yang kurang estetis.

Ini hanyalah sebuah metafora saja bagi kinerja usaha kita. Kinerja menjadi kurang effektif apabila kita terjebak dengan masalah-masalah taktis, misalnya sibuk memeriksa salinan brosur promosi hanya untuk sekedar memastikan bahwa komunikasi kita dengan pasar sudah terjadi (dalam Titanic seperti: mengatur kursi geladak), padahal saat itu kita sudah terancam oleh persaingan dan cuma ada dua pilihan, bersaing ‘head to head’ atau kita ditinggalkan pelanggan (dalam Titanic seperti: memasuki ke perairan gunung es yang berbahaya).

Kapten kapal seharusnya menempatkan pertimbangan-pertimbangan strategis yang sebelum taktis. Memastikan posisi-posisi gunung es sebelum mengatur kursi geladak atau memilih menu lagu-lagu gesekan biola!

Dengan kata lain, pastikan bahwa kita memiliki prospek jangka panjang (setidaknya dua atau tiga tahun untuk bisnis yang normal) dengan tujuan yang jelas, dan bahwa bisnis kita disetting untuk tetap melihat pengaruh utama pada apa yang bakal terjadi selama periode ini, setelah kemudian mengatur sumber daya yang tersedia untuk mengejar tujuan-tujuan perusahaan dan terus melakukan improvisasi penyesuaian sebagai tuntutan situasi.

Bisa jadi kita memikirkan strategi bisnis dan taktik bisnis seperti kita menyelesaikan sebuah teka-teki permainan puzzle, yaitu dengan mencari potongan lurus dan meletakkannya di tepi kemudian mencari corak yang mendekati untuk dicoba ditaruh di sebelah dalamnya. Jauh lebih mudah untuk menyusun suatu puzzle dengan menempatkan pinggiran di tempat pertama, karena mereka menentukan posisi bagian dalam. Jadi seperti itulah bisnis, strategi yang lebih didahulukan.

Setiap orang yang bermain puzzle harus dapat menemukan mana yang bagian tepi, oleh karena itulah ilmu strategi seharusnya bukan hanya dipunyai oleh pemilik perusahaan dan direktur saja. Dalam bisnis, setiap orang dalam organisasi harus mengetahui dan memahami strategi yang dipilihnya dalam arti yang luas. Ini akan memberi makna pada pekerjaan mereka dan tujuan tempat kerja mereka dalam konsep yang jelas.

Disini strategi berkomunikasi kepada semua staf dan membantu mereka melihat pekerjaan mereka dan tujuan perusahaan dalam konteks yang utuh adalah sangat penting, karena perpaduan antara kualitas individu SDM dan motivasi tim yang bersinergi merupakan cerminan praktek manajemen yang baik.

Written by arifunasiin

7 Comments

darahbiroe

pertamax dulu yaw

wirausaha muda impian saya

kunjungan lagi n salam kenal dan ditunggu kunjungan baliknya makasih

Hary4n4

Menarik sekali gambaran yg dipaparkan.. Faktor keamanan dan keselamatan kadang memang sering terlupakan..atau mungkin, sengaja dilupakan…
Makasih banyak utk share-nya.. Makasih juga atas kunjungannya ke tempat saya..

Salam hangat dan damai selalu…

zipoer7

Salam Takzim
Sebuah metafora yang keliru pada titanic, akan menjadikan kehati-hatian dalam menindak suatu pekerjaan. hehehe jadi ingin nonton film titanic lagi deh melihat kecantikan kapal yang megah dan kesombongan manusia kaya
Terimakasih kang artikelnya sehingga saya dapat mengambil hikmah.
Oh iya salam kenal dari saya dan ucapan terim kasih karena sudah berkunjung di blog saya.
Salam Takzim Batavusqu

elfaridi

nice post pak, memang kita harus “mamanusiakan-manusia” 🙂 saya tunggu kunjungan dn komen nya diblog saya:)

Inspirasi Solusi Bisnis

Artikel posting-an anda sungguh menarik. Artikel ini mengingatkan para pelaku bisnis dan kita semua yang seringkali terjebak pada pola pikir inside-out, yakni berpikir dari dalam baru keluar …atau inilah saya yang terbaik dan benar sementara yang diluar saya harus menerima dan mengikuti saya….

Padahal kita juga harus menerapkan pola pikir outside-in…apa yang diinginkan di pasaran…barulah saya menyesuaikan.

Dalam berwirausaha kombinasi 2 pola pikir ini harus sama-sama tajam.

Salam Sukses

Comments are closed.