Menjadi Abi

Akan menjadi Abi, ah biasa-biasa saja. Tetapi prinsip saya itu ternyata menjadi tidak cocok dan tidak pas ketika istriku secara sadar maupun tidak sadar menyita hampir seluruh waktu, tenaga dan pikiranku untuk turut andil dalam berbagai kesibukannya dalam rangka mempersiapkan hari kelahiran si kecil nanti. Kegiatanku yang rutin, mengantar beliau kontrol kandungan ke Dokter Spesialis Kandungan adalah menu wajib bulanan. Beli ini dan itu untuk kelengkapan si kecil dan cari info ke kanan dan ke kiri, kedua hal itu beberapa menu pelengkapnya, dan tentu masih banyak pritil-pritil lainnya kala itu yang bisa dipastikan tidak akan cukup semalaman untuk mengingat-ingatnya.
Banyak hal baru yang bisa saya pelajari, yang hasil dari belajar itu lambat laun telah mengantarkanku semakin siap menjadi seorang Calon Abi, walaupun kadang muncul juga pertanyaan, apa iya saya sudah layak untuk menyandang gelar Abi. Bismillah saja lah, toh Allah lebih tahu atas kadar kemampuan diriku.
Perasaan harap-harap cemasnya istri tampak jelas sekali, terlihat wajahnya yang sering pucat, tersirat pada pesan-pesannya kepadaku ketika mau berangkat kerja, pada tingkah lakunya yang seolah tak mau menjauh dariku sangat menunjukkan dia membutuhkan dukungan penuh untuk suatu prosesi yang luar biasa yang akan ia alami. Beberapa fragmen di hari-hari terakhir kehamilannya yang masih lekat dipikiranku adalah ketika istri dengan setia menemaniku begadang melembur kerjaan kantor yang hampir semalaman ia juga turut nggak tidur, pun ketika waktu itu ada tugas yang harus saya kerjakan dikontrakan teman sampai larut dan malah sempat ketiduran disana karena kecapaian, maka pagi itu terpaksa mendengarkan kuliah subuhnya hanya karena lupa sms kalo malam itu saya nggak pulang, meskipun sudah berdalih bahwa tidak dosa bagi orang yang lupa dan ketiduran sehingga ia terbangun ceramah itu tetap saja mengalir.
Dari Dokter Kandungannya, dr Ita Herawati, sudah memberitahukan kapan HPL (Hari Perkiraan Lahir)-nya, tapi karena namanya juga perkiraan, makanya hari itu tanggal 20 Februari 2007 saya masuk kerja seperti biasa. Siang itu ditelpon adik ipar kalo istri sudah pecah ketuban dan sudah di RS Haji Pondok Gede. Saya segera meluncur kesana, dan Alhamdulillah jam 16.55 seorang bayi perempuan ‘Hana‘ terlahir dengan selamat juga ibunya, walau dengan prosesnya tak bisa didiskripsikan karena sangat komplek kejadiannya waktu itu.
Satu setengah tahun kemudian, 21 Agustus 2008 hal serupa berulang, dan Alhamdulillah lahir seorang bayi laki-laki ‘Faw‘ yang sehat dan montok. Sekalipun waktu dan tempatnya berbeda, ada satu hal yang sama, yaitu kurasakan rambut kepalaku ini sakit bukan main dan serasa mau tercabut bersama kulitnya gara-gara dijadikan pegangan istriku yang sedang berjuang untuk melahirnya. Tapi tak mengapa, yang pasti hal itu tidaklah sesakit yang istri rasakan, dan dia relakan itu semua hanya untuk mencari Ridho Allah dan wujud perjuangannya untuk menghadiahkanku sang buah hati, agar aku bisa disebut sebagai Abi.
Segala Puji Hanya Milik-Mu Ya Rabb Sekalian Alam, atas nikmatmu yang satu ini dan nikmat-nikmat-Mu yang lainnya yang belum aku syukuri.


Written by arifunasiin

2 Comments

mediagol

selamat ya pak, semoga si kecil bisa menkadi anak yang soleh & berbakti kepada ke2 orang tuanya kelak,amin

rexigol

Selamat ya pak, semoga si kecil menjadi anak yg soleh & berbakti kepada ke2 orangtuanya kelak,amin…

Comments are closed.