Memaknai Arif

Kali ini saya mengcopy paste tulisan di kolom hikmah Republika On Line (ROL) oleh KH Hasyim Muzadi, seseorang yang kita kenal sebagai orang arif yang kali ini beliau mengupas kata ARIF.

Sumber : republika.co.id/r/nohgph

Rubbamaa istahyal `aarifa arif

An yarfa’a haajatahu ilaa mawlaahu

Liktifaa-ihi bimasyii-atihii, 

Fakayfa laa yastahyii an yarfa-`ahaa ilaa kholiiqotihi-

Sering kali seorang yang arif merasa malu meminta hajatnya kepada Tuhannya karena puas dengan kehendak-Nya. Bagaimana ia tidak akan malu meminta hajatnya kepada makhluk-Nya? -Ibnu `Athoillah–

Dalam pergaulan sehari-hari, pengunaan kata “arif” sering digabung dengan kata “bijaksana”. Boleh jadi, penggabungan itu, diantaranya, bertujuan untuk saling menguatkan makna masing-masing kata.  Seseorang dapat disebut arif jika bisa bersikap bijak dan atau bijaksana. Memang, agak masygul jika kita mesti memisahkan kedua kata itu dalam makna berbeda.

Dua kata ini berpasangan seperti penggabungan kata pada jamaknya, bijak dan bestari, misalnya. Dua kata penuh makna ini menyertai sebuah sikap, sifat, serta karakter seseorang. Karena kandungan maknanya yang agung, tidak setiap kita bisa bersikap arif dalam segala hal dan dalam semua keadaan.

Orang yang mampu menjadikan sifat arif sebagai pelengkap kepribadiannya maka ia termasuk orang beruntung. Mengapa? Karena, ia telah berada di jalan yang benar untuk mengenal dirinya.

Bukankah orang yang kenal dirinya akan kenal Tuhannya? “Man`arofa nafsahu faqod `arofa robbahuu. (Siapa mengenal dirinya maka ia telah mengenal Tuhan- nya).” Deretan kata ini mengandung konsekuensi transendental.

Penggunaannya bisa saling melengkapi. Menyusunnya bisa secara terbalik sehingga berbunyi, siapa kenal Tuhannya maka ia akan kenal dirinya. Tuhan mesti tetap berada dalam maqom sebagai  “sebab” dari segalanya. Tuhan pulalah yang menyebabkan seseorang kenal dirinya dan kenal Tuhannya.

Dalam konteks inilah, kita ingin meletakkan kata-kata arif dan bijak dari seorang bijak bestari, Ibnu `Athoillah As-Sakandary. Sifat kenal diri atau tahu diri adalah sifat dasar yang mesti dimiliki jika seseorang ingin bersifat arif. Sifat ini pulalah yang diajarkan Allah kepada semua makhluk-Nya. Sebagai bukti bahwa Dia Maha Pencipta, Allah “hadir” dalam semua ciptaan-Nya.

Setiap ciptaan pasti ada penciptanya. Semua makhluk mesti butuh Khalik. Semua kita mesti tahu diri. Tahu diri bahwa kita tak lebih dari ciptaan yang akan selalu butuh kehadiran Sang Pencipta.

Sikap tahu diri sangat dibutuhkan dalam setiap keadaan dan dalam semua persoalan.

Seorang pemimpin mesti tahu dari mana ia berasal. Ia berasal dari rakyat. Rakyat berasal dari Tuhan. Rakyat yang memberinya kepercayaan menjalankan amanat kepemimpinan. Maka, tersebutlah adagium suara rakyat suara Tuhan.

Pemimpin disebut tak tahu diri kalau ia lupa dari mana ia berasal. Celakalah pemimpin yang lupa dirinya siapa. Rakyat akan jadi korban dari sikap lupa dirinya. Seseorang yang lupa diri dan tak tahu diri akan mengabaikan semua nilai dan norma.

Seseorang yang tak tahu diri, bah kan bisa melakukan apa saja. Kata Rasulullah SAW, “Idzaa lam tastahi fashna’ maa syi’ta. (Kalau kau tak malu, lakukan apa yang kau mau).” Karena tidak tahu diri, tidak kenal diri, lupa diri, dan tidak malu, Fir’aun mengaku dirinya Tuhan. Karena sifat dan sikap yang sama, Musailamah al-Kadzdzab mengaku dirinya nabi.

Karena sifat dan sikap itu pula, sering dalam kehidupan sehari-hari kita temukan orang mengaku dirinya pemimpin, ulama, wakil rakyat, guru bangsa, moralis, asketis, dan sebagainya. Yang sungguh menyedihkan, karena perkembangan yang demikian pesat, kita dengan mudah menemukan demikian banyak orang mengaku dirinya ulama, kiai, ustadz, guru agama, dan spritualis.

Tetapi, karena sifat dan sikap tak tahu diri, tak kenal diri, lupa diri, dan tidak malu, tak jarang diberitakan ada seorang wakik rakyat diadili karena perkara korupsi uang rakyat. Sering kita dengar seorang guru mencabuli muridnya. Kerap juga spiritualis menipu anggotanya.

Padahal, jika mengacu kepada kata-kata Sheikh Atho’, kenal diri akan mengantarkan seseorang bersifat dan bersikap arif. Paling kurang, arif dalam makna harfiahnya, tahu.

Tahu bahwa kita tak lebih dari makhluk yang diciptakan sehingga kurang layak jika mesti menuntut banyak kepada penciptanya. Saat nikmat hidup dianugerahkan kepada kita, adakah karunia yang lebih baik dari itu? Bukankah ada yang ingin hidup seribu tahun?

Maka, berhentilah memaksa Tuhan memberikan apa yang kita angankan. Berhentilah mengangankan menjadi pemimpin kalau akhirnya tidak amanah. Berhentilah mengaku ulama jika akhirnya menyesatkan umat.

Berhentilah menebar janji jika hanya akan mengingkarinya.

Berhentilah bersikap tidak arif.

Hanya orang yang arif akan malu menyatakan kebutuhannya kepada Allah dan hanya yang tidak arif yang tidak malu meminta dan terus meminta.

Jika seseorang merasa malu menyatakan hajat dan permohonannya kepada Allah, manalah mungkin ia tidak akan malu mengantarkan kebutuhannya kepada sesama makhluk. Ia akan merasa cukup “hanya” dengan kehendak dan keputusan Allah SWT. Apa pun kehendak- Nya, orang yang arif akan selalu bersikap ridha dan qona’ah (puas).

Bukankah sepasang kekasih selalu siap dalam keadaan apa pun dan di manapun?

Wallaahu a’lam bis shawaab.

Written by arifunasiin