Latihan Tangan Di Atas

Pernahkah kita iseng-iseng menghitung berapa penghasilan dari orang yang berprofesi menjadi pengamen atau peminta-minta?
Kalau belum coba kita hitung bersama, katakanlah seorang pengamen dalam sehari minimal dia naik turun bis kota sebanyak 15 kali, kemudian dalam 1 bis minimal dia memperoleh 5 ribu rupiah, dalam sebulan kira-kira penghasilannya adalah Rp. 5.000,- x 15 bis/hari x 30 hari, itu sama dengan Rp. 2,25 juta dalam sebulan, wooww.. fantastis!!!

Makanya tidak perlu heran kalau profesi yang satu ini menjadi menarik bagi kaum pinggiran yang tergiur untuk datang ke ibukota ini, tapi seringnya mereka lupa kalau dirinya tidak berketrampilan dan tidak mempunyai modal, padahal argo kebutuhan hidup mereka sehari-hari jalan terus. Sehingga siapa juga yang tidak melirik profesi yang tanpa modal dan ketrampilan penghasilannya bisa lebih besar daripada gaji rata-rata sarjana fresh graduate tanpa harus bersusah-susah kursus atau kuliah terlebih dahulu.

Biasanya bagi orang yang menyadari betapa besar penghasilan mereka, menjadi enggan mengulurkan tangan ketika datang seorang pengamen atau pengemis. Ada saja dalih yang kita jadikan alasan, bisa saja kita menganggap pennghasilan kita lebih kecil daripada pendapatan mereka dan sebenarnya mereka itu lebih kaya daripada kita, atau sebenarnya mereka itu mampu bekerja tapi mereka malas karena itu pekerjaan warisan turun-temurunnya yang harus dipotong generasinya sejak sekarang dengan tidak memberinya uang, atau paling duit yang mereka peroleh cuma buat foya-foya dan mabuk-mabukan dan seterusnya dan seterusnya, dan semua itu bisa jadi memang ada benarnya.

Sekarang permasalahannya, bagaimana kalau yang datang itu adalah orang yang benar-benar membutuhkan, dan dia memang tidak ada pilihan lain selain meminta padahal sejatinya kalau tidak terpaksa dia sendiri juga enggan memohon belas kasihan orang lain. Ketika kita sudah merasa diri kita adalah seorang dermawan, juga bagaimana kalau yang datang itu adalah malaikat yang diutus Allah untuk menguji apakah benar kita suka memberi atau malah masih berjejal alasan dari mulut kita sehingga malaikat itu berlalu dengan tangan hampa.

Sebenarnya tinggal kita kembalikan pada kaidah asalnya, yaitu tangan diatas itu lebih baik daripada tangan dibawah atau orang yeng memberi itu lebih baik dibandingkan orang yang meminta. Oleh karena itu, mari kita ringankan tangan kita dengan melatih dan membiasakan tangan kita diatas dengan mengulurkan bantuan dari sedikit bagian dari rejeki yang dikaruniakan Allah kepada kita. Asal ikhlas, tidak perlu lagi kita dipusingkan dengan kenapa orang itu meminta-minta serta akan dipergunakan untuk apa pemberian kita nantinya.
Selagi tidak mengetahui penggunaannya, kita berdoa saja semoga dengan pemberian kita menjadi pemicu motivasinya untuk menjadi orang yang gemar memberi seperti kita, dan untuk selanjutnya mengantarkan orang senasib untuk mentas dari belenggu masalahnya.

Urusan kita adalah memberi kepada orang yang meminta, selebihnya urusannya dengan Allah. Sebenarnya hal tersebut adalah sarana latihan kita untuk berbagi kepada sesama, karena kalau kita sudah terbiasa, kita akan merasa ringan ketika harus memberikan sesuatu yang lebih besar lagi, baik yang diambil Allah secara baik-baik maupun secara paksa.

Allahu A’lam.

Bekasi, 8 Maret 2010

Arifunasiin


Written by arifunasiin

1 Comment

Comments are closed.