Khitbah yang Unik

Lanjutan taaruf..
Lamaran hal lazim ketika seseorang akan menikahi pujaan hatinya. Cuma prosesinya akan selalu berbeda pada masing-masing orang. Untuk hal yang satu ini saya harus mengeluarkan tenaga dan pikiran yang ekstra untuk meyakinkan kedua orangtuaku dan kakak-kakak saya, bagaimana tidak, saya bilang ke mereka saya ingin nikah, tapi saya hanya bisa mengenalkan ke mereka namanya saja dengan sedikit coret-coretan yang mungkin bisa dikatakan mirip Curriculum Vitae orang yang mencari pekerjaan. Orangnya? Mana mungkin mereka bisa kenal, ketemu juga belum. Susah pokoknya, berbagai cara yang saya samapaikan kepada keluargaku dengan sepenuh hati agar kelihatan saya sudah mantap dan seolah tinggal meminta approval mereka saja, walau jauh dilubuk hati sebenarnya saya sadar ada kebimbangan juga. Siapa sih yang nggak dag dig dug, orang apa yang terjadi setelah nikah nanti siapa juga yang tahu, hanya Allah lah yang Maha Mengetahui. Ya Rabbi, saya pasrahkan diri hamba kepada-Mu!
Next.., Tanggal 5 Ramadhan Silaturrahim pertama saya, dan tidak berselang lama kemudian sudah langsung menghadapi musim mudik lebaran. Huh.. lama nian rasanya, saya sangat berharap ini semua segera tuntas. Eh.., jangan ding, rasa-rasanya masa-masa ini adalah fase yang paling menyenangkan, konon ada wise word, nikmatilah proses! Dan omong punya omong, ada usulan dari pihak kelurga akhwat, bagaimana kalau lebaran ini sekalian sebagai moment untuk mempertemukan kedua keluarga mumpung saudara-saudara pada ngumpul, “Bagaimana? Bisa nggak, Akh?”. Fuihh.., berarti ada kerja besar yang harus saya lakukan di penghujung Ramadhan ini, padahal saya baru bisa mudik dan sampai rumah paling cepet lebaran H-4. Waktu sesempit itu saya langsung gunakan untuk loby tingkat tinggi, daann hasilnya..
“Masak sih pas lebaran begitu, Rif?, Kan kasihan kalau ada tetangga yang mau silaturrahim lebaran, Dan lagi Bapak-e itu saudara tua, jadi kalau ada saudara yang jauh-jauh kemari trus rumah kita tutupan nggak ada orang.” Pupus sudah harapanku untuk mempersingkat masa ta’ruf ini.
Belum lama setelah itu, “Rif, bener ya, apa Lebaran Hari Pertama saja kita kesana, paling-paling saudara-saudara kita yang jauh malah belum pada sampai, malah berita ini nanti bisa langsung dikabarkan ke mereka dan tetangga-tetengga, yo wis kamu panggil Mas-mu sana, kita bicarakan bareng-bareng, selagi masih ada waktu buat persiapan.?”.
Singkat cerita, layaknya kipas angin, saya terus bedar kemana-mana mempersiapkan segala sesuatunya, dan tepat habis Sholat Id rombongan segera berangkat ke tempat nenek si Akhwat tersebut. Hampir 9 jam perjalanan kami tempuh, baru menjelang maghrib kami tiba. Dan langsung kami beramah tamah, bapak menyampaikan apa yang menjadi keperluan kami sekeluarga pada silaturrahim itu dan disambut baik oleh pihak keluarga besar si Akhwat. Selesai Isya’, makan malam lalu kami pamit.
Wah.. SMP banget, tapi masak mau nginep. Untuk pulang kali ini, membayangkan perjalanan 9 jam saja sudah males. Tapi Alhamdulillah, sudah selesai fase ini, ‘Khitbah di 1 Syawal’, hmm.. kayaknya bagus untuk judul novel.
Di perjalanan, semua tertidur kecapaian, jam 12 malam istirahat sebentar di perbatasan Jateng-Jatim, dan perjalanan kembali dilanjutkan. Kurang lebih jam 04.30, Ciiiiiittt.. GEDUBRRAAK! “Ada apa?, ada apa?”, ternyata kaca depan mobil kami pecah, bukan menabrak, tapi menubruk orang yang naik sepeda dengan keranjang bambu di bagian belakang sedang berangkat berjualan mainan anak-anak, persis setelah mobil kami berpapasan dengan mobil, sehingga mas driver kami masih silau. Astaghfirullahal ‘Adhim. Tapi Alhamdulillah, cuma sepedanya saja yang rodanya menjadi angka 8, orangnya juga cuma lecet sedikit di lututnya. Tapi berhubung gelap, kami ingin memastikan si bapak ini benar-benar tidak kenapa-napa dengan membawanya ke RSUD terdekat. Sesampai di RS saya yang harus nunggu si bapak dibersihkan lukanya, sedangkan keluarga langsung meneruskan pulang dengan kaca depan mobil yang bolong. Ah.., ada-ada saja dengan ‘Khitbah di 1 Syawal’ ini.

Written by arifunasiin