Khawatir vs Jujur

Sewaktu awal-awal kuliah dulu, saya tuliskan di halaman terakhir buku ngajiku ” Berkhawatirlah, dan Jujurlah!”. Ini adalah slogan hasil perenungan mendalam saya ketika saya harus menimba ilmu di perantauan, jauh dari pengawasan orang tua dengan kondisi lingkungan yang sama sekali belum aku kenal.

Kenapa demikian, alasan saya sederhana, tiap kali saya harus dihadapkan dengan berbagai hal asing dan permasalahan yang belum pernah saya temui yang serupa sebelumnya, slogan ini ternyata cukup ampuh untuk menepis ketakutan dan keraguan saya.

Jurus pertama yang saya keluarkan adalah saya harus khawatir, layaknya teori risk management, otak saya diperas untuk harus memikirkan kira-kira kondisi terburuk apa yang bakal terjadi akibat hal baru tersebut, dan khawatir disini tentulah berbeda dengan was-was. Dan jurus berikutnya adalah saya harus jujur, karena fase terdekat berikutnya dari orang yang khawatir pada umumnya adalah mengambil jalan pintas dan dengan mengambil jalan pintas berarti telah keluar dari jalan yang seharusnya yang sudah digariskan, oleh karena itu saya bertekad tidak akan mengambil jalan pintas itu. Walaupun pernah juga terpeleset kesana sekali waktu ketika dalam kondisi kepepet dan karena saya adalah manusia, tapi biasanya tetap saya usahakan dengan jalan tauriyah.

Ilustrasinya begini, ketika ujian semesteran tinggal minggu depan, sangatlah wajar jika saya termasuk khawatiriyun atau golongan orang-orang yang sangat khawatir dan cemas, mencemaskan kelengkapan bahan materi mata kuliah dan mencemaskan soal ujian yang keluar nantinya meleset dari yang saya pelajari. Langkah jujur saya adalah, belajar semaksimal mungkin yang saya bisa atau dengan sistem sks sekalipun, dan kalo memang hasil dapat nilai D atau E, anggaplah itu nasib, berarti nanti saja pas semester pendek atau tahun depan mata kuliah itu diambil lagi.

Sebenarnya saya tahu juga, kalo dalam kondisi seperti ada jalan pintasnya, entah dengan menyiapkan contekan atau tanya-tanya teman pas ujian nantinya. Tapi saya tetap tidak mau, karena mengingat imbas dari jalan pintas itu sangatlah mengerikan. Coba kita renungkan sejenak, apabila saya ambil jalan pintas itu dan kemudian saya dapat nilai A, maka nilai A itu akan tersanding dengan nilai mata kuliah yang lainnya di transkrip saya, berikutnya setelah lulus saya gunakan transkrip itu untuk melamar kerja hingga saya dapat pekerjaan, dan gaji hasil saya bekerja saya makan tiap bulan bahkan saya nafkahkan ke istri, anak, keluarga sampai saya meninggal, dan bisa jadi zakat, infaq dan sedekah yang saya sisihkan sama sekali tidak berkah dan tidak bermanfaat kalau itu awal mulanya berujung dari nyontek. Naudzubillahi min dzalika.

Ketika saya tidak nyontek dan tidak tanya ke mahasiswa yang lain pas ujian seperti ini memberikan kesan kepada teman-teman saya bahwa saya bisa menjawab semua soal ujian, dan hal ini yang memancing mereka untuk bertanya dan minta contekan kepada saya, kalau kepepet seperti ini sering saya bertauriyah, ”ini lembar jawab saya juga masih kosong kok”, sambil menaruh jari-jari saya pada salah satu bagian lembar jawab yang benar-benar kosong.

Written by arifunasiin