Harga Sebuah Originalitas

Belajar dari tatacara para ulama dalam mengkaji suatu hadis, ada suatu kehati-hatian yang amat sangat dalam merunut perawinya dengan tujuan agar isi / matan hadis yang sampai pada ulama tersebut adalah hadis yang bersanad shohih. Kira-kira begitulah urut-urutan, sehingga hadis dikatakan shohih itu apabila originalitasnya terjaga.

Nah, sebenarnya konsep originalitas yang sama juga lazim digunakan diluar dunia ilmu hadis, tetapi umumnya dengan tujuan yang agak berbeda. Kalo dalam ilmu hadis itu bertujuan agar tidak ada hadis palsu, artinya hadis yang sampai ke zaman berikutnya adalah adalah hadis yang sama persis dan nggak nyimpang dengan yang pernah disampaikan oleh Rosulullah. Akan tetapi kalo konsep originalitas diselain ilmu hadis biasanya bertujuan untuk mengormati si empunya hak.
Secara gamblangnya begini, kalo ada orang yang mbuat lirik lagu kemudian dipake oleh orang/grup lain, maka yang punya ide dan mbuat pertama kali berhak kecipratan, entah dalam bentuk royalti, cuma pahala atau bahkan malah dosa.

Dulu semasa saya kuliah pun, originalitas sangat ditekankan pada saat kita menggunakan statement, penemuan, rumus dan lain-lain dari orang sudah lebih duluan rajin dari pada kita di skripsi-skripsi kita, dalam bab 2 kalo nggak salah.

Dan yang menjadi harapan saya, di dunia maya ato di milis ini, kita mempunyai semangat untuk menjaga budaya originalitas yang sama pula. Semisal kalo berkeinginan kita menukil, mengutip, merujuk, mengalih bahasakan, mem-forward dan me.. me.. dari tulisan orang lain, jangan lupa mencantumkan pula sumber asalnya dari siapa, dari mana, kapan, ato dari link mana dst..! Ato kalo tidak mau dan memang tidak berkeinginan sumber asal diketahui orang lain, minimal tidak mengklaim itu sebagai hasil karyanya.

Saya yakin, kalo semangat seperti ini dibudayakan dilingkungan kita, akan timbul rasa menghormati orang lain yang tinggi dan tidak akan ada pihak yang merasa terambil hak-haknya. Dan yang pasti, yang akan muncul adalah pribadi-pribadi yang penuh kreasi, inovasi, improvisasi yang bisa mengantarkan Indonesia menjadi bangsa tempat bangkitnya sebuah peradaban dunia di masa depan.

Melanggar, mengklaim hak orang lain dalam hal karya, biasanya kita sebut membajak, itu sama sekali berbeda dengan yang disebut meniru, mencontoh, dan memodifikasi sebuah karya. Dan perlu temen-temen ketahui, kita akan mempunyai rasa (baca: taste) yang luar biasa pada saat kita sudah bisa menghasilkan karya yang karya itu benar-benar original, dan biasanya kecanduan.
Kalo ga percaya, Coba Deh!

Written by arifunasiin