Cita-cita dan Sukses

Apakah Sukses bisa menjadi Cita-cita? Berikut ini adalah ungkapan yang sering kita gunakan atau yang kita tahu,
“Cita-cita saya adalah ingin hidup sukses.”
Saya setuju dengan tujuan untuk hidup sukses, tetapi dalam kaidah penentuan sebuah targetnya masih terlalu luas, bahkan sangat. Oleh karenanya, kalau ada orang yang menginginkan sebuah kesuksesan tersebut kemudian kita tanya,
“Sukses seperti apa, mas?” atau
“Sukses yang bagaimana, mbak?”,
saya hampir yakin orang tersebut akan mengeryitkan dahi dan berpikir sejenak untuk kemudian menyampaikan parameter-parameter keinginan jangka pendeknya saat itu atau bahkan menyampaikan sesuatu yang terlalu ideal yang dia sendiri tidak terbayangkan bagaimana cara mencapainya, lebih pada apa impiannya.

Semuanya sah-sah saja, tidak ada definisi yang jelas tentang arti ‘Sukses’ dan memang cenderung relatif tergantung siapa dan kapan dia menafsirkan. Saya ambil contoh seperti ketika waktu masih kecil kita ditanya,
“Cita-citamu kepengen jadi apa, dik?”
kemudian layaknya kaset yang diputar berulang-ulang kita akan menjawab bahwa cita-cita kita adalah sebuah ‘pekerjaan’ yang diinginkan orang tua atau siapapun di sekitar kita, tetapi jarang sekali ada yang mau mengajarkan kepada kita apa itu maknanya cita-cita. Sehingga bisa saja cita-cita kemudian berubah ketika kita beranjak remaja, karena menganggap cita-cita yang diajarkan orang tua sudah tidak cocok dengan keinginannya sendiri, atau sebaliknya, justru menjadi tidak mempunyai cita-cita karena masih belum paham apa itu cita-cita, dan ingin terus mencari sesuatu cita-cita yang lebih menantang dan lebih ideal.

Bukan definisi sukses dan apa cita-cita kita yang ingin saya cermati, tetapi justru lebih kepada pemaknaannya. Setiap segala sesuatu dan dikaruniakan Allah kepada kita, baik itu kita inginkan ataupun tidak, saya memaknai itu adalah sebuah kesuksesan, karena Allah pasti mengkaruniakan sesuatu yang terbaik bagi hamba-Nya. Bahkan kegagalan dalam mencapai keinginan kita pun bisa bermakna kesuksesan, kesuksesan meraup pengalaman untuk menjadi pondasi dalam mengejar apa yang kita inginkan. Dan sangat manusiawi apabila sudah mencapai sesuatu yang kita inginkan, kita akan mulai sibuk mengejar keinginan yang lebih tinggi lagi, dan kadang terlupa mengakui sesuatu yang sudah kita capai itu adalah sebuah kesuksesan yang harus kita syukuri. Buktinya, ketika kita berjumpa dengan teman lama kemudian kita disapa,
“Bos, waduh.. sudah sukses nih sekarang, bagaimana kabarnya?” atau
“Makin sukses saja?”,
namun jarang sekali kita mengiyakan dan mengucapkan Syukur Alhamdulillah, karena kita sendiri yang tahu persis belum semua impian kita terwujud dan masih kita kejar.

Disinilah sukses seharusnya kita maknai, ‘sekarang’. Sekarang adalah wujud kesuksesan kita, kita sudah mendapatkan sekarang adalah dari akumulasi kesuksesan kita sebelumnya berupa rentetan karunia nikmat-Nya yang bertubi-tubi, yang jarang kesuksesan demi kesuksesan itu kita akui apalagi kita syukuri. Mulai kesuksesan kita menjadi pemenang satu-satunya sel sperma yang membuahi sel telur, kesuksesan kita lahir, kesuksesan kita bertahan hidup, kesuksesan kita bisa bangun di pagi hari, makan, minum dan menghirup udara, kesuksesan kita bisa bersekolah, kesuksesan kita berpenghasilan, kesuksesan kita berkeluarga, kesuksesan kita berkarir dan seterusnya. Oleh karenanya kesuksesan juga saya maknai ‘sebuah proses’ dari bagian tahapan-tahapan yang rumit dan saling terkait, dan bukan cita-cita ataupun tujuan akhir, kecuali kesuksesan final kita yaitu masuk ke Surga-Nya.

Sudahkah kita mencapai cita-cita dengan kesuksesan? Kita disebut sukses apabila kita mengakui segala karunia-Nya untuk kemudian mensyukurinya. Marilah kita syukuri semua kesuksesan kita dan berteriak dengan lantang,
“Alhamdulillah, sekarang saya sudah sukses!”.


Gunung Putri, 18 Februari 2010

-arifunasiin-

Written by arifunasiin

2 Comments

Isparmo

Makna sukses masing-masing orang berbeda. Tergantung visi dan tujuan hidupnya. Sukses itu seperti istilah orang Jawa : Wang sinawang, yang artinya saling melihat. Seseorang menganggap orang lain (anggap namanya B) lebih sukses dari dirinya (anggap namanya A) karena orang lain (B) bisa melampaui tujuan hidup orang yang melihatnya (A). Padahal si B mungkin belum mencapai apa yang dicita-citakan alias belum sukses.

Yang penting : syukuri yanga ada, optimalkan potensi diri, bersaing pada hal yang menjadi kompetensinya, dan berbagilah.

arifunasiin

Paribasane : rumput tetangga selalu kelihatan lebih hijau, ngono po piye?

Setuju banget Kang, makasih keywords :”Syukuri yang ada, optimalkan potensi diri, bersaing pada hal yang menjadi kompetensinya, dan berbagilah!”

Comments are closed.