Beradaptasi, harus itu!

Berawal dari kenekadan berujung keberanian, barangkali begitulah kalimati yang pas untuk sedikit menggambarkan kondisi saya kala itu ketika harus menjawab tantangan seseorang yang saya anggap sebagai guru spiritualku untuk mendaki gunung lawu saat itu. Bagaimana tidak, hanya seminggu instruksi itu turun tanpa ada briefing mengenai bagaimana medannya berikut bekal dan peralatan minimal yang harus dibawa, bahkan dilepas tanpa seorang pun pemandu, yang ada cuma gambaran global mengenai kesemuannya, untuk teknis dan detailnya harus ijtihad sendiri, dia cuma pengen cerita kisah sukses sekembalinya nanti.

Ada rasa bimbang bercampur dengan keinginan untuk menguji nyali, ada rasa takut di satu sisi tapi juga serasa ada sebuah tantangan yang harus diselesaikan sekedar untuk memacu adrenalin di sisi lainnya, nano-nano rasanya. Alhamdulillah, karena faktor kepepet inilah saya berdua dengan mamo’ tertuntut untuk menjawab tantangan ini dengan strategi utamanya adalah sesegera mungkin beradaptasi dengan kondisi yang ada, dan ini harus fokus.

Adaptasi pertama ketika memulai ekspedisi ini di depan loket masuk pendakian di Cemoro Sewu di kaki Gunung Lawu, adalah kami harus sok kenal, senyum kanan senyum kiri, mencari informasi sebanyak-banyaknya dari kenalan baru dengan jurus obrolan-obrolan ringan, dan selanjutnya dengan segera juga kami harus mencari yang bisa kami percaya untuk dijadikan referensi. Dari adaptasi tahap pertama ini kami berdua berhasil membuat M O U dengan rombongan adik-adik STM Negeri 1 Surakarta agar supaya mereka berkenan menjadi pemandu kami selama pendakian nantinya dengan kondisi pengalaman dan bekal pendakian kami yang sangat minim.

Adaptasi berikutnya, selama pendakian kami harus bisa menanggalkan sifat individualis, egoisme dan segala bentuk kesombongan untuk sepenuhnya menjadi makhluk sosial yang harus ramah, senang menyapa orang dengan salam, permisi, basa-basi, dan tak segan untuk berbagi serta menyadari betul bahwa sangatlah kecil di Hadapan Sang Khaliq. Betapa tidak, di alam terbuka seperti itu kita tidak bisa memprediksikan kendala apa yang akan terjadi, seperti bencana hujan ataupun badai bisa sewaktu-waktu datang tanpa permisi. Nasib kami nanti, Allahu Alam. Oleh karena itu yang kami lakukan tak putus-putus berdzikir dalam hati, dan sesekali menyapa rombongan lain yang kebetulan berpapasan ataupun ketika mendahului. Dalam Batinku Subhanallah, kok bisa-bisanya kami bertemu orang yang sebelumnya tidak kenal sama sekali, tetapi saat itu bisa lebih dekat dibanding saudara kandung sendiri. Mungkin kami semua menyadari, kalau nanti sesuatu hal yang buruk bakal terjadi, mereka-mereka itu yang paling dekat dan paling memungkinkan untuk segera datang menolong kami. Doa.. itu pasti, karena kalau bukan Allah yang menolong kami, lantas siapa lagi.

Adaptasi yang terakhir adalah bisa menyatu dengan alam, dalam artian menyadari bahwa alam menjadi bagian dari kami dan kami juga menjadi bagian dari alam. Alam ini Allah berikan kepada kita untuk dimanfaatkan seperlunya, sekali lagi seperlunya, selebihnya tidak boleh di eksploitasi dengan serakah, dikotori dengan sampah, apalagi dibakar ataupun dirusak, dan dengan modal prinsip ini kami menjadi berperilaku layaknya para PecintaAlam kawakan yang sudah bisa menghayati secara detail bagian per bagian dari indahnya alam ini, sebutlah salah satunya seperti yang kita ketahui, Green Peace yang mereka rela malang-melintang keseluruh penjuru dunia untuk mati-matian menjaga kelestariannya, mungkin kadang harus ekstrim begini untuk mensyukuri karunia Ilahi.

Tanpa bisa beradaptasi, rasanya sulit bagi kami untuk bisa menikmati indahnya Gunung Lawu dari kaki sampai di puncaknya Argo Dumilah +3.265 m dpl (diatas permukaan laut) itu. Dimana sepanjang perjalanan Cemoro Sewu hingga Puncak Lawu, disana terdapat ranting-ranting cemara meliuk-liuk dengan setia menopang daun yang sedang berdesau bersama angin memainkan orkestra alam menyanyikan lagu-lagu syahdu, dengan panggung lereng berlatar belakangkan bongkahan batu dan rumpun bambu beraromakan wangi bunga edelweis yang sesekali burung malam berlalu serta senyum bulan sabit menjadi tata lampu walau cahayanya pudar nan sayu, Allahu Akbar, indah nian kala itu. Makanya kami harus beradaptasi karena kami tidak mau pendakian dulu menjadi hambar, pulang dengan lelah fisik dan capek hati.

Barangkali juga harus demikian bila dicerminkan dikeseharian kita, kita tetap perlu terus beradaptasi supaya setiap proses dan bagian kehidupan ini menjadi lebih bermakna.

Written by arifunasiin

2 Comments

askar

awaL proses memang tLihat berat
seteLah mdapat irama ny, kita kan bersyukur ktka tdak keLuar dr jaLur perjuangan d awaL yg beRat

arifunasiin

betul sekali mas askar, yang penting kita harus mensyukuri apapun karuniaNya,
terima kasih atas komentarnya ini.

Comments are closed.